Apakah Ilmu itu ?
Kata ilmu, adalah musytarak lafzhi (equivocal) dan diaplikasikan dalam makna yang beragam:
Penggunaan kata ilmu sebagai lawan kebodohan yang dimutlakkan pada semua pengetahuan yang mencakup konsepsi (gambaran) dan tasdik, ilmu hushuli dan ilmu hudhuri, ilmu akal, indrawi, syuhudi dan naqli, serta dalam bentuk satu proposisi hingga dalam bentuk satu disiplin keilmuan.
Ilmu yang mempunyai makna kepastian dan keyakinan serta hal-hal yang berhubungan dengannya yang menjadi keyakinan manusia; yang mencakup proposisi bersifat yakin, benar dan sesuai dengan kenyataan atau salah dan tidak sesuai dengan kenyataan. Ilmu pada makna ini lawan dari keraguan, persangkaan dan kemungkinan.
Ilmu dengan makna suatu sistem dari proposisi-proposisi hushuli dimana makrifat yang dihasilkan, diperoleh dengan jalan berbagai metode, seperti: ilmu-ilmu eksprimen, filsafat, sejarah, irfan, sastra dan lain-lain.
Ilmu dengan makna suatu sistem dari proposisi-proposisi hushuli –non-hudhuri- yang diperoleh dengan metode penginderaan dan eksprimen, serta sudah digolong-golongkan dalam bentuk suatu disiplin ilmu; seperti ilmu-ilmu eksprimen, tabi’i dan humaniora. Dalam pemutlakan ini, ilmu fiqhi, ushul fiqhi, teologi, filsafat, irfan, ilmu-ilmu sastera dan sejarah, tidak dihitung sebagai ilmu.
Ilmu-ilmu eksperimen dibagi menurut dimensi tinjauan yang berbeda-beda. Menurut tinjauan subyek dan yang berhubungan dengannya, ilmu eksperimen terpilah menjadi ilmu humaniora dan ilmu tabi’i (ilmu alam). Ilmu-ilmu yang penelitian dan obsevasinya berhubungan dengan perilaku-perilaku individu dan masyarakat, berkehendak dan tidak berkehendak, didasari pengetahuan manusia dan tidak didasari pengetahuan, disebut dengan ilmu-ilmu eksperimen insani (humaniora). Kelompok ilmu-ilmu ini yang meliputi psikologi, sosiologi, ilmu politik, pedagogi, ekonomi dan manajemen, mendapatkan kekhususan eksperimen dan sistimatika eksprimen; akan tetapi perlu disebutkan bahwa ilmu-ilmu insani juga menerima pengkajian dengan cara dan metode lain, di antaranya: metode rasional, syuhudi dan naqli.
Metode serta cara ini membentuk ilmu-ilmu insani filsafat, irfan dan agama. Adapun ilmu-ilmu yang penelitiannya berhubungan dengan prilaku dan fenomena bukan manusia dan dalam domain menerima kuantitas serta berada dalam sistematika eksperimen, ilmu-ilmu itu dinamakan ilmu-ilmu eksperimen tabi’i; seperti fisika, kimia, biologi dan sebagainya.
Maksud kata ilmu, dalam kategori ilmu agama, adalah pemutlakan yang keempat dari ilmu; apakah ia itu dalam bentuk perolehan ilmu yang kongkrit ataukah proses penelitian ilmu ataukah tujuan-tujuan ilmu serta perilaku-perilaku para ilmuan yang menjadi fokus perhatian.
Ilmu-ilmu eksperimen juga mempunyai pembagian lain, yaitu ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu aplikatif. Ilmu-ilmu murni bertujuan menyingkap keteraturan yang terdapat dalam alam materi dan membuka rahasia-rahasianya; sedangkan ilmu-ilmu aplikatif bertujuan menguasai alam materi dan mengabdikan unsur-unsur alam.
Apakah Agama itu ?
Maksud kami agama dalam wacana ini adalah proposisi-proposisi yang ada dalam teks-teks agama dan doktrin-doktrin agama yang bentuknya pengajaran secara deskriptif dan normatif, dan motif-motif agama dari penganut-penganut agama serta demikian juga pemahaman dan makrifat agama, yakni pendapat yang memiliki landasan dan metodelogik dari para ahli agama (ulama) yang dinisbahkan kepada tek-teks agama, dan juga pembenaran-pembenaran akal yang dinisbahkan pada realitas-realitas keagamaan yang termanifestasi dalam bentuk pribadi dan individual serta keseluruhan dan umum.
Apakah Metafisika itu ?
Metafisik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan seluruh eksistensi dan seluruh alam-alam; serta suatu sistem yang terbentuk dari laporan-laporan yang dijelaskan dan diterangkan melalui metode akal. Terkadang metafisik dalam istilah lain bermakna seluruh proposisi-proposisi rasional dan deskriptif yang tidak didapatkan melalui jalan eksperimen; seperti prinsip simplisitas natural yang mana Newton sendiri mengakui hal ini dan menjelaskannya pada pembahasan pengetahuan terhadap tabiat (natural).
Hubungan antara Ilmu dan Agama
Hubungan antara ilmu dan agama adalah pandangan yang telah lama dikemukakan oleh para ulama, filosof dan teolog. Masalah ini telah diungkapkan dari sudut pandang yang berbeda-beda dalam teologi dan filsafat ilmu-ilmu sosial dan filsafat ilmu. Secara general dapat diisyaratkan berbagai hubungan antara ilmu dan agama, antara lain:
- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara pra asumsi-pra asumsi ilmu dan pra asumsi-pra asumsi agama.
- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara makrifat ilmu dan makrifat agama.
- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara proposisi-proposisi ilmu dan proposisi-proposisi agama.
- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara substansi ilmu dan substansi agama.
- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara bahasa ilmu dan bahasa agama.
- Pengaruh ilmu terhadap makrifat agama.
- Pengaruh agama dan makrifat agama terhadap teori-teori, tujuan dan metode-metode ilmu.
Apakah Ilmu Agama itu?
Apakah ilmu dan agama dapat bercampur satu sama lain dan keduanya dapat terhidang dalam sebuah hidangan yang dapat diserap secara bersama, dan dalam suatu bentuk dimana keduanya saling berkait satu sama lain dan mendatangkan suatu fenomena yang utuh serta satu sintesa yang sama, dan pada saat yang sama tidak terperangkap singkritisime dan kita tidak kehilangan kemandirian esensialitas ilmu dan agama ? Untuk menjawab masalah ini, sebelumnya diisyaratkan definisi yang beragam tentang ilmu agama dan mengungkapkan pandangan yang menjadi pilihan:
Ilmu yang disusun dengan tujuan menerangkan dan menafsirkan kitab serta sunnah, seperti: Ushul Fiqhi, Ulum al-Qur’an, tata bahasa Arab, Logika, Filsafat, Hermeneutik dan lain-lain;
Ilmu yang diperoleh dari hasil penafsiran dan penjelasan kitab dan sunnah, dengan kata lain proposisi-proposisi deskriptif yang ada dalam naskah agama yang memberitakan atas alam nyata dan membentuk sistem makrifat seperti: pengetahuan al-Qur’an, pengetahuan sunnah, tafsir al-Qur’an hadis, Fiqih, Teologi dan sebagainya;
Ilmu yang mekar dan berkembang dalam atmosfir budaya, peradaban dan masyarakat Islam, seperti: kedokteran, mate-matika, astronomi dan ilmu-ilmu Islam lainnya;
Ilmu yang diperoleh dari hasil penyingkapan mukjizat ilmiah al-Qur’an dan Sunnah, dan sesuai dengan kandungan hipotesa-hipotesa ilmu eksprimen;
Proposisi-proposisi agama yang menerangkan dasar-dasar metafisika ilmu dan dipandang sebagai landasan penelitian-penelitian eksperimen.
Setiap pengetahuan yang diperoleh melalui metode eksperimen, akal dan agama;[4] dalam mempersiapkan suatu pengetahuan gabungan dari metode-metode makrifat yang beragam, mungkin tidak akan dapat sampai pada satu titik yang sama; sebab dalam kedudukan observasi konklusi dari aktivitas-aktivitas, harus menggunakan satu metode penelitian; oleh karena itu mungkin saja metode singkritis akal, eksperimen dan agama dalam kedudukan penemuan adalah berpengaruh; akan tetapi dalam kedudukan penilaian, satu-satunya kondisi yang menerima makna, adalah kita menerima defenisi yang paling akhir dari ilmu agama dan itu bermakna bahwa keyakinan-keyakinan dan prilaku-prilaku keagamaan dan bukan keagamaan juga mempunyai pengaruh dalam pemilihan teori dan penilaian.
- Setiap bentuk ilmu yang bermanfaat dan diperlukan bagi masyarakat Islam; Ustad Muthahari dalam hal ini berkata: “kesempurnaan dan khatamiyyah (sebagai agama penutup dan terakhir) Islam meniscayakan bahwa setiap ilmu yang berguna dan bermanfaat untuk masyarakat Islam, yang perlu dan niscaya, harus kita pandang sebagai ilmu agama”.[5]
- Menjadikan agama sebagai hakim terakhir; yakni para ilmuan ilmu eksperimen, menyerahkan hasil pekerjaan mereka kepada penilaian (keputusan) agama dan dalam bentuk tidak terdapat pertentangan dengan proposisi-proposisi agama, maka hasil itu diterima.
- Agama tidak hanya memberikan dorongan kemajuan ilmu, akan tetapi juga mempersiapkan garis-garis universal dan kaidah-kaidah umum ilmu dan sains serta memberikan landasan yang menyeluruh pada ilmu eksperimen, teknologi industri, sistem keamanan dan lain-lain. Sebagaimana ilmu ushul fiqih menggunakan kaidah-kaidah akal dan rasional dalam sebagian nash-nash agama sebagai kunci memahami teks-teks fiqih maka juga adalah mesti dengan media dan wasilah yang sama sebagian dari nash-nash agama yang berkenaan pengenalan terhadap alam dan manusia juga dibahas dan diteliti. Dengan demikian alat dan wasilah untuk melakukan penelitian pada tingkat kemujtahidan ilmu-ilmu lain selain ilmu fiqih, di samping dengan sebagian nash-nash juga menggunakan kaidah-kaidah akal dan rasio, sehingga dapat dipersiapkan medan yang luas dalam ilmu-ilmu tersebut (ilmu tabii dan humaniora) dengan kedalaman penelitian lewat sejumlah nash-nash yang berhubungan dengannya.
7. Seluruh ilmu-ilmu eksperimen mendapat bentuk dari jalan proposisi-proposisi, keyakinan-keyakinan dan prilaku-prilaku keagamaan serta mendapat pengaruh dalam metode, tujuan, motivasi ilmu, pembuatan teori, dan pengarahan ilmu; sebab pengajaran-pengajaran agama dan metafisika non agama senantiasa melekat dan mempengaruhi proses penelitian dan observasi ilmu serta persiapan penelitian ilmu-ilmu eksperimen.
Urgensi Pemaparan Masalah Ilmu Agama
Menguraikan kategori ilmu agama dari dimensi yang beragam merupakan suatu hal yang mesti. Salah satu dari cara kerja masalah bersangkutan adalah hubungan serta pertentangan ilmu dan agama, yang masuk sebagai kategori ilmu agama. Yakni masalah hubungan ilmu dan agama, dapat dipaparkan dengan dua pra asumsi kenyataan, ilmu dan kognisi proposisi-proposisi agama serta penerimaan subyek-subyek yang sama antara ilmu dan agama. Di samping itu dapat juga di konsepsi kondisi saling berhubungan antara statmen-statmen perintah dan normatif agama yang menjelaskan tujuan-tujuan manusia dengan pengajaran-pengajaran ilmu.
Dalam masalah ini, orang-orang seperti Galileo mengungkapkan pemisahan antara ruang lingkup ilmu dengan ruang lingkup agama dan juga Kant mengeluarkan masalah-masalah matafisika dari keterbatasan akal teoritis dan membatasi akal teoritis pada wilayah permasalahan-permasalahan ilmu dan fenomena-fenomena zaman dan tempat.[6] Karl Bart, Paderi Masehi Protestan juga mempunyai pandangan bahwa subyek ilmu dan filsafat ketuhanan adalah memanifestasinya Tuhan pada Isa al-Masih, sedangkan subyek ilmu adalah alam tabiat. Ia dengan membedakan subyek keduanya sampai juga pada pembedaan metode di antara keduanya.[7]
Sekelompok orang juga menawarkan pemisahan dalam wilayah tugas dan fungsi ilmu dan agama; dengan makna bahwa tugas ilmu sebagai media hipotesa, estimasi, dan kontrol; bukan penjelas; dan agama hanya sebagai pengatur dan penertib kehidupan individu dan masyarakat; bukan penjelas perkara-perkara realitas.[8] Sebagian lagi menjelaskan pemisahan tujuan ilmu dan agama. Tujuan agama adalah memberi hidayah dan memberi kebahagiaan pada manusia, sedangkan tujuan ilmu adalah menerangkan hakikat-hakikat alam natural. Kelompok lainnya, mengungkapkan pemisahan bahasa agama dan bahasa ilmu serta bermaknanya proposisi-proposisi ilmu dan agama, atau pandangan tidak bermaknanya proposisi-proposisi agama lewat kaum positivisme, atau pemisahan fungsionalisme bahasa ilmu dan agama dari filosof analitik bahasa.
Metode lain yang telah diuraikan dalam hubungannya dengan pertentangan ilmu dan agama, adalah kategori ilmu agama; dengan makna bahwa hanya ilmu agama yang dapat memecahkan kandungan ketidaksesuaian asumsi dan postulat agama dengan ilmu-ilmu eksperimen; sebab dengan pengaruh metafisika agama, ruh, dan motif agama para ulama agama atas proses, teori dan tujuan ilmu, tidak diperoleh kandungan-kandungan ketidaksesuaian ilmu dengan agama.
Motif Pemaparan Ilmu Agama
Terdapat dua motif yang dapat dikonsepsi bagi orang-orang yang memaparkan esensi ilmu agama, antara lain: pertama, memecahkan pertentangan ilmu dan agama serta proposisi-proposisi ilmu dengan proposisi-proposisi agama dan pertentangan-pertentangan lainnya; dan kedua, tinjauan posisi agama atau sekuler ilmu-ilmu eksperiman dalam kehidupan dan peradaban manusia.
Pada dasarnya, masalah ilmu agama, di samping mempengaruhi pra asumsi-pra asumsi agama atas ilmu-ilmu, mengarahkan pengambilan posisi agama terhadap hasil-hasil ilmu, juga membantu memecahkan pertentangan ilmu dan agama.
Pengaruh Agama dan Metafisika terhadap Ilmu
Apakah proposisi-proposisi agama dan makrifat agama berpengaruh terhadap ilmu eksperimen? Apakah proses ilmu menerima bentuk hanya dari sisi pengaruh pengetahuan dan penafsiran individu yang berhubungan dengan dunia kedua, ataukah pengetahuan agama umum dan spesifik (disipliner) yang berhubungan dengan dunia ketiga juga berpengaruh dalam proses ilmu? Pengaruh-pengaruh ini berada di wilayah bagian mana dari organ tubuh ilmu eksperimen? Menyebabkan bangkit dan meningkatnya ilmu atau sebaliknya? Apakah ada kemungkinan mempengaruhi? Apakah terjadi dan mengaktual? Mencapai tujuan ataukah tidak? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini serta konsepsi dan afirmasi ilmu agama, kita harus menggunakan metode eksperimen dan penelitian sejarah; yakni penelitian-penelitian eksperimen dan hasil-hasil ilmu kita tinjau dalam wilayah sejarah ilmu sehingga kita menghasilkan dengan jalan penelitian ilmiah pengaruh metafisika agama dan sekuler; ketika itu akan diketahui bahwa ilmu, bukanlah deskripsi hakiki dari alam realitas. Pemahaman-pemahaman keilmuan bukanlah hasil penyingkapan sempurna dari alam natural dan pemahaman-pemahaman rasional serta landasan metafisika memiliki pengaruh terhadap teori-teori keilmuan. Tujuan ilmu para cendikiawan dan tinjauan umum pandangan dunia mereka juga berpengaruh dalam sisi pengambilan bentuk ilmu; sebab tujuan ilmu para cendekiawan berada di bawah pengaruh bentuk pertanyaan-pertanyaan teoritis mereka. Dengan memperhatikan pandangan dunia dan atmosfir pemikiran yang berkembang di zaman mereka dan dengan di bawah pengaruh keberadaan paradigma-paradigma, mereka memandang bentuk-bentuk khusus dari pertanyaaan-pertanyaan layak untuk diteliti dan dibahas. Dan pengaruh ini tidak hanya dalam tataran pengumpulan ilmu, akan tetapi juga nampak dalam tataran penerimaan penelitian dan penghukuman. Pada masa ini, filsafat ilmu melalui klaim positivisme, dimulai melalui penyaksian dan indera serta kedahuluan penyaksian atas teori-teori dan asumsi-asumsi. Positivisme juga mengakui bahwa Penyaksian-penyaksian serta persepsi-persepsi indrawi yang netral merupakan landasan meyakinkan dalam dimensi pembangunan pengetahuan empiris yang obyektiv, dan satu-satunya metode menyingkap proposisi-proposisi kesaksian atas kaidah-kaidah umum, adalah metode induksi. Pada tataran pembentukan keilmuan, mental manusia melakukan aktivitas, tidak hanya pasiv dan tinggal seperti sebuah wadah yang hanya di isi dimana pemberian-pemberian panca indra di gudangkan di situ. Adapun obyektivitas bermakna penyaksian dan pengetahuan terhadap fenomena-fenomena, yang jauh dari imajinasi-imajinasi, yakni pra asumsi-pra asumsi metafisika telah dinafikan secara keseluruhan; sebab: pertama, pengetahuan panca indra dan pengalaman tidak mungkin kosong dari pewarnaan teoritis dan kosong dari setiap pra asumsi, dikarenakan pembelajaran dan pengalaman sebelumnya seorang penyaksi menyebabkan penyaksi tersebut melihat titik khusus dan lalai dari titik lain dan orang lain yang tidak memperoleh pembelajaran dari suatu disiplin ilmu, tidak mempunyai kemampuan untuk mendeskripsikan masalah yang berhubungan disiplin ilmu tersebut. Maka dari itu setiap penyaksian dan pengalaman adalah diwarnai dengan pewarnaan teori-teori. Kedua, penyaksian dan persepsi panca indra tidak netral; sebab persepsi panca indra didahului dengan suatu ikatan khusus, soal tertentu atau masalah khusus. Ketiga, bahasa manusia, mengandung penemuan-penemuan ontologis, epistemologis, kebudayaan, dan idiologis dan setiap kali menurun, apakah dalam ilmu atau seni atau setiap kategori lain, muatan kebudayaan dan filsafat juga menyertainya menurun. Oleh karena itu, ketika seorang ilmuan dalam fisika berkata: dengan masuknya cahaya, dari suatu lokasi, seperti perpindahan udara pada lokasi lain disebabkan air, maka cahaya menjadi terurai. Pada dasarnya, konsepsi-konsepsi filsafatnya menerima prinsip keberadaan cahaya, gerak dan lainnya. Keempat, tidak hanya penyaksian-penyaksian yang didahului dengan teori dan tidak hanya bahasa eksprimen yang didahului dengan teori-teori, bahkan kelahiran ilmu bergantung kepada sangat banyak dari pra asumsi-pra asumsi ontologi dan epistemologi; tanpa mereka ilmu tidak dapat merangkak setapak demi setapak. Oleh karena itu, klaim bahwa proposisi-proposisi penyaksian merupakan sandaran meyakinkan untuk membangun istana pengetahuan eksprimen, juga adalah tidak sempurna; sebab pemberian-pemberian ilmu dan proposisi-proposisi penyaksian, meskipun senantiasa bersandarkan atas pemberian-pemberian alam yang sama dan berserikat antara seluruhnya, akan tetapi pemberian-pemberian ini apakah ia dihasilkan dari jalan penyaksian dan deskripsi ataukah diperoleh dari jalan eksperimen yang terkontrol serta pengukuran terkuantitatifkan, tidak akan pernah kenyataan sesuatu itu sejati dan keberadaannya murni, tapi senantiasa disertai dengannya percampuran penafsiran.[9] Pemahaman-pemahaman seperti energi, entropi, gen, molekul, perasaan di bawah sadar, hati nurani, normatif dan lainnya yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam dan humaniora, tidak dapat disaksikan secara langsung, akan tetapi digunakan dengan perantara produk-produk mental untuk menjelaskan fenomena-fenomena luar yang disaksikan.[10] Kelima, induksi bukanlah metode yang dapat diyakini untuk menetapkan kaidah-kaidah ilmu; yakni dengan induksi tidak mungkin qadiyah-qadiyah penyaksian dan partikuler yang terkhususkan dengan zaman dan tempat tertentu dijadikan pengganti dari teori-teori ilmu dan qadiyah-qadiyah universal.
Pengaruh Agama terhadap Ilmu
1.Pengaruh Metafisika Agama terhadap Hipotesa-hipotesa Ilmu
Pengaruh metafisika terhadap penemuan dan perubahan hipotesa-hipotesa dan juga pengaruh pandangan-pandangan metafisika atas komprehensi-komprehensi, model-model, prinsip-prinsip dan macam-macam teori ilmu, kurang lebih terdapat kesepakatan; akan tetapi terdapat perbedaan tentang kebagaimanaan pengaruh dan klasifikasi pandangan-pandangan metafisika. Hasil kata, hipotesa-hipotesa ilmu menjadikan pra asumsi pandangan-pandangan metafisika sebagai bagian dari motifnya dan motif ini menjadi benih penemuan dan perubahan hipotesa-hipotesa ilmu.
Sebagai contoh, seseorang yang meneliti dalam ilmu-ilmu humaniora, pra asumsi-pra asumsi ia dalam motif manusia, merupakan pemberi ilham untuk bentuk tertentu dari komprehensi-komprehensi, asumsi-asumsi, model-model, metode-metode dan teori-teori ilmu-ilmu humaniora, dan pengetahuan-pengetahuan agama dalam motif manusia dapat berperan sebagai pra asumsi ilmu-ilmu humaniora. Bentuk pengaruh ini lebih banyak nampak dalam ilmu-ilmu humaniora aplikatif, seperti manajemen, kepemimpinan, dan ilmu-ilmu pendidikan.
Poin yang perlu diperhatikan bahwa ilmu-ilmu humaniora di samping dari dimensi subyek, tujuan, dan metode berbeda dengan ilmu-ilmu alam, juga terpaksa dalam pemahaman fenomena-fenomena alam menggunakan metode penafsiran sebagai ganti dari metode penguraian dan untuk penganalisaan dan penafsiran prilaku-prilaku individu dan masyarakat, menggunakan pemahaman-pemahaman seperti keputusan, kehendak, tujuan dan lainnya[11] dan doktrin-doktrin agama berpengaruh pada keseluruhan pemahaman-pemahaman, analisa, dan penafsiran-penafsiran tersebut. Oleh karena itu, dalam ilmu-ilmu humaniora dibicarakan tentang perubahan-perubahan seperti pemikiran, keinginan, kehendak, keputusan, perasaan, dan lainnya, dan pengetahuan-pengetahuan agama berpengaruh terhadap kelompok perubahan-perubahan ini.
Sebagai contoh dapat diisyaratkan dengan teori evolusi Darwin yang mengungkapkan tentang perubahan dan pergantian specis-specis. Perubahan ini mengambil bentuk dengan jalan keberuntungan dan pemilihan tabii. Dengan melalui informasi-informasi biologi dan pemberian-pemberian simpel hasil eksperimen, hal ini tidaklah menafikan kepenciptaan Tuhan; akan tetapi ilmuan metafisika sekuler, mengarahkan penafsirannya terhadap pandangan Darwin akan penafian kepenciptaan Tuhan.[12]
2. Pengaruh Doktrin-doktrin Agama Terhadap Ilmuan Empiris
Semua aktivitas manusia mengarah pada maksud dan tujuan tertentu. Penemuan arah itu lahir dari motivasi yang ada pada manusia dan motivasi itu juga menerima pengaruh dari tinjauan, nilai-nilai dan tujuan. Berasaskan ini, keterikatan para ilmuan terhadap doktrin-doktrin agama berpengaruh atas aktivitas-aktivitas penelitian dan keilmuan mereka serta berpengaruh juga dalam penerimaan dan penolakan mereka terhadap ilmu atau perkembangan ilmu. Sebagai contoh dapat diisyaratkan pada pandangan benar agama beberapa abad dalam Islam, dimana dengan penafsiran yang benar terhadap komprehensi-komprehensi seperti zuhud, sabar, cintai dunia, penantian dan juga dengan memandang penting terhadap pengetahuan alam natural serta pengetahuan terhadap ayat-ayat âfâqi Tuhan, telah membuka jalan untuk terciptanya ilmu-ilmu eksperimen dan menambah motivasi para ilmuan untuk melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Akan tetapi kemudian, dengan meningkatnya kesufi-sufian dan penafsiran yang tidak benar terhadap zuhud, cinta dunia, sabar dan komprehensi-komprehensi lainnya, penelitian-penelitian ilmu eksperimen menjadi tertutup dan motivasi terhadap ilmu menjadi merosot dikalangan kaum muslimin. Demikian juga dapat diisyaratkan pemikiran Masehi dalam abad pertengahan dan ketiadaan perhatian sama sekali terhadap wahyu dan akal serta ketiadaan perhatian terhadap penelaahan eksperimen dan pengkajian ilmu alam yang menjadi sumber berkembangnya ketuhanan rasionalisme dan ketuhanan wahyu.
Dalam berhadapan dengan pemikiran Masehi di atas, pemikiran protestanisme yang memperkenalkan bahwa kesibukan dunia sebagaimana kesibukan agama mempunyai nilai dan bernilai tinggi serta pemikiran ini juga memperkenalkan keutamaan dan manfaat dari pengetahuan alam yang kemudian menjadi sumber dari kemajuan penelitian ilmu dan ekonomi.
3. Pengaruh Agama atas dasar-dasar dan postulat-postulat Ilmu Empiris
Pra asumsi-pra asumsi metafisika seperti pembatasan wujud pada materi, pemisahan epistemologi dan ontologi alam nâsut (materi) dan alam jabarût (non materi), kemungkinan pengenalan terhadap alam natural, skeptisisme dan kenisbian epistemologi, sangat merpengaruhi dasar dan landasan ilmu-ilmu empiris.
Sebagai penjelasan, bahwa ilmu-ilmu empiris dimulai dari penyaksian dan pengalaman, sedangkan pra asumsi-pra asumsi serta motif filsafat berpengaruh atas dasar dan landasan ilmu-ilmu, dan kemudian pra asumsi-pra asumsi filsafat juga dipengaruhi oleh pandangan dunia agama dan epistemologi yang diambil dari kitab dan sunnah.
4. Pengaruh Doktrin-doktrin Agama Terhadap Tujuan dan Metode Ilmu
Setiap aktivitas manusia mempunyai tujuan. Begitu juga ilmu sebagai bagian dari aktivitas manusia niscaya memiliki tujuan. Dan dari sisi tujuannya, ia mengambil sumber ontologis, epistemologis, dan teologis dari para ilmuan dan ilmu itu tumbuh dalam kaca mata metafisik tertentu dan motif pandangan-pandangan agama tertentu. Perubahan dalam tujuan dan perubahan penyingkapan rahasia-rahasia alam, sebagai tujuan ilmu-ilmu, berpengaruh terhadap penguasaan alam tabiat serta peningkatan teknologi di tengah masyarakat manusia dan perubahan metodelogi ilmu dari keapaan menjadi kebagaimanaan. Dan perubahan ini juga membawa sekularisme pada puncak perkembangannya serta menumbuhkan pengingkaran terhadap tujuan tabiat dan pencipta yang berkuasa dan mengelola secara mutlak alam. Sebagai contoh: jika observer dan peneliti berasaskan aliran filsafat yang menerima pandangan dan term kecenderungan pada determenisme, maka motif kecenderungan tujuan ia juga mengalami perubahan demikian.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah: pertama, aktivitas penelitian seorang ilmuan mempunyai kerangka pemahaman khusus dan dalam ruang lingkup serta motif tertentu menerima aplikasi ontologi dan epistemologi. Dan motif serta pandangan metafisik ini berpengaruh dalam pembolehan dan pengharaman baik dalam kondisi pengumpulan maupun dalam kondisi penghukuman.
Kedua, semakin kita dekatkan kerangka ilmu-ilmu empiris tabii kepada kerangka ilmu-ilmu empiris humaniora, maka kecenderungan pandangan metafisik –agama- menguat atas pengkonstruksian teori dalam ilmu-ilmu
Minggu, 25 April 2010
Ilmu Agama
Sejarah, Ilmu Pengetahuan, dan Studi Hubungan Internasional
Dalam bukunya ‘When I was very young’, sejarahwan E.H. Carr menuliskan, “ Saya sangatlah yakin bahwa sejarah bukanlah ilmu”. Telah menjadi kebiasaan yang tidak bijaksana dalam penelitian sejarah, bahwa para sejarahwan dalam historical method-nya menggunakan atribusi scientific. Demikian juga dengan para ilmuwan politik, tetapi bedanya disini para ilmuwan politik lebih cermat dan teliti dalam penerapannya, mereka merasa preoccupied dalam penelitian ‘scientific’-nya. Mereka cenderung mengasumsikan teknik pendekatan reduksi, sistem, dan kuantitatif, bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya ilmuwan eksak tidak begitu yakin terhadap hal tersebut. Melihat fenomena ini para mahasiswa hubungan internasional menghadapi dilema2, apakah mengikuti teknik ‘scientific’ sejarahwan yang menghasilkan understanding3 dimana hal-hal menarik akan di’cerita’kan; Ataukah mengikuti para ‘scientific method’ ilmuwan politik, yang didalamnya tidak ada jaminan kevalidan. Atau bisa jadi mereka melakukan sinkronisasi sendiri dalam reflektifitas post-modernisme yang menggunakan segala macam pendekatan atas ‘ilmu pengetahuan’.
Makna Sains
Sains dibutuhkan untuk melakukan penjelasan (explain) atas fenomena dan ramalan (forecast/prediction)sebagai langkah antisipasi masa depan4. Keduanya berjalan bersamaan dalam satu kerangka teori. Sains hanyalah satu-satunya cara untuk metode penjelasan dan prediksi fenomena alam. Sementara itu, metode non-sains juga terdapat di dalam sejarah kehidupan manusia, tetapi universalitas dan validitasnya tidak dapat diandalkan. Berbeda dengan metode saintifik yang mampu menghasilkan kesepakatan universal, melewati batasan bahasa, wilayah, ras, agama, dan ideologi5.
Metode Saintifik dalam Hubungan antar Manusia
Sayangnya metode saintifik ini tidak pernah valid sebagaimana ilmu eksak, ketika diterapkan dalam ilmu sosial. Stanley Hoffmann pernah mengingatkan bahwa ‘manusia bukanlah gas (molekul) atau piston (motor kendaraan)’, artinya terdapat kesadaran (conciusness) dalam alam pikir manusia. Ilmu-ilmu sosial yang ada (Barat) sering kali menyangkal fakta ini. Mereka melihat politik, ekonomi, dan masyarakat sama saja dengan dunia eksak / alamiah, yang pada akhirnya memunculkan asumsi bahwa ’kita’ dapat memahami dunia hubungan antar manusia, setidaknya sebagian kecil dari tujuan explaining and forecasting, sebagaimana yang dilakukan oleh ilmu alam / eksak. Contoh dari pendekatan ini termasuk, ‘rational choice’ dalam asumsi ekonomi6, structural functionalism dalam sosiologi7, ‘where you stand depends on where you sit’ dalam studi organisasi, psikologi aliran Freud, dan teori realis dan neo-realis dalam studi hubungan internasional.
Mereka tidak hirau atas ketidakpastian dan kemungkinan akan perubahan pola pikir dan pola sikap manusia. Ini disebabkan keinginan mereka menjustifikasi teori mereka dalam tataran kebenaran universal sebagaimana kebenaran ilmu alam / eksak. Mereka juga beralasan, apabila reduksi, stabilisasi, dan universalisasi tidak dilakukan maka penjelasan akan meluas dan tidak memberikan satu kejelasan yang memungkinkan prediksi. Gaddis memandang, aktivitas ini tidak lebih sama dengan yang dilakukan para sejarahwan yang hanya mampu memberikan penjelasan yang baik, tetapi tidak mampu memberikan prediksi; padahal ini sangat penting bagi pembuatan kebijakan (policy making).
Ilmu Sosial dan ‘Kecemburuan’ atas Ilmu Alam
Penyakit yang dialami berbagai bidang ilmu sosial ini didokumentasikan dengan apik oleh M. Mitchell Waldrop dalam bukunya Complexity :
“Sebagaimana aksioma, dalil, dan bukti-bukti bergerak di layar OHP, para fisikawan terpana pada kekuatan matematika – terkejut ngeri sekaligus terpana. ‘Mereka terlalu sempurna’, kata salah seorang fisikawan muda yang tidak lupa untuk menggelengkan kepala sebagai tanda ketidakpercayaannya. ‘Akan tetapi mereka sepertinya terpesona atas khayalan-khayalan matematika mereka sendiri, hingga mereka tidak menyadari adanya pepohonan dalam hutan. Begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk percobaan menyerap matematika ke dalam bidang tersebut (ekonomi, sosial), dan saya rasa untuk alasan apapun, mereka tidak memahami terlebih dahulu bahwasanya model matematika (metode hitungan) tersebut hanya digunakan dalam konteks / kasus tertentu saja. Nyatanya dalam kebanyakan kasus, yang dibutuhkan hanyalah sedikit akal sehat saja’ lanjutnya”.
Maksud paragraf diatas adalah mengingatkan kembali para ilmuwan sosial untuk memahami kembali apa yang dimaksud dengan sains. Bukannya melakukan revolusi diam-diam atas konsep makna sains (menjadi ilmu sains ‘baru’) yang sebelumnya hanya dikenakan oleh ilmu alam saja8.
Ilmu Sejarah
Stephen Jay Gould mengungkapkan fakta bahwa ilmu sejarah memiliki kekuatan untuk menjelaskan secara detail ‘dimana kita’ dan ‘bagaimana kita bisa disini’. Tetapi untuk melakukan prediksi –sebagaimana yang selalu diinginkan para sejarahwan, ia dibatasi oleh kurangnya penelitian yang spesifik tentang kerangka kerja dan proses berjalannya sejarah secara keseluruhan. Memang kebanyakan yang dihasilkan para ilmuwan sejarah adalah di bidang kerangka kerja (structural sciences). Sementara pada level proses (sciences of process), ia sangatlah minim, kemungkinan hal ini disebabkan kecenderungan untuk bimbang dalam memilih teknik kuantifikasi dan kalkulasi.
Sejarah dan Ilmu Pengetahuan Alam yang ‘Baru’
Dengan usaha sinkronisasi ilmu sosial dengan ilmu alam / fisika, ilmuwan eksak mulai beralih jalur berfikir lebih ke arah sejarahwan. Artinya lebih tidak rasional, dan prediksi yang dihasilkan sangatlah minim. Untuk itu perlulah kiranya untuk menengok debat lama antara ilmuwan sosial tradisional dengan ilmuwan sejarah. Sejarah dinilai:
Gagal untuk bersikap obyektif, sementara Gaddis memandang ilmu alam lebih sedikit mengalami permasalahan dengan obyektivitas ketimbang ilmu sejarah, oleh sebab itu sejarah lebih mudah melepaskan diri dari satu framework ke framework yang lain, yang tidak dapat dilakukan ilmu alam dan ilmu sosial.
Gagal memberikan standarisasi ukuran / measurement atas fenomena. Gaddis menyanggah dengan mengutip ‘Leopold von Ranke yang menyatakan bahwa sejarah dapat dan harus dipisahkan dari penelitinya sendiri, tetapi Charles A. Beard menyatakan hal tersebut sangatlah relatif, tergantung standard apa yang akan kita gunakan’. Sama halnya dalam teori hubungan internasional, model pilihan rasional tidak mengukur rasionalitas dalam skala yang tepat, begitu juga dengan definisi power yang batasannya sangat umum.
Gagal membuat suatu model yang kompleks. Gaddis berpendapat bahwa tujuan dari model adalah memberikan contoh sepersis mungkin dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu model adalah sebuah metafora (gambaran), dan kompleksifitasnya diasumsikan tergantung pada keseimbangan antara ketelitian terhadap kegunaan. Sejarah sebenarnya melakukan metafora dengan mencerminkan realita kompleks sehingga ia lebih mudah dipahami ketimbang menggunakan metode dan deskripsi kompleks.
Gagal mengalih-bahasakan pilihan atas deskripsi kuantitatifnya. Gaddis menganggap bahasa sendiri sebagai sebuah model, dan tidak ada alasan untuk mengalih-bahasakan ekspresi matematika, selama permasalahan standar pengukuran dan modelling dapat diatasi.
Gagal membuat kemungkinan-kemungkinan dan tidak hirau atas generalisasi yang dilakukannya. Gaddis menjawab bahwasanya sistem yang mengatur dunia ini memiliki lebih dari satu variabel, yang akhirnya akan menghasilkan reaksi yang berbeda antar variabel, yang juga dialami ilmu sosial. Disinilah pentingnya sejarah, untuk memahami pola sikap dari sebuah sistem.
Gagal mengumpulkan bukti secara sistematik dan cenderung intuitif. Gaddis menanggapinya, bahwa kompilasi bukti dan munculnya intuisi selalu berjalan secara simultan, dimana hipotesa menetapkan bukti yang akan dipakai, dan bukti yang kemudian muncul membentuk kembali hipotesa sebelumnya. Mengumpulkan data saja secara terus menerus tanpa memiliki standard mekanisme penilaian yang mencukupi (yang berasal dari intuisi), tidak akan mungkin menyelesaikan permasalahan.
Gagal memberikan bukti yang teliti dan cenderung persuasif. Gaddis menyangkal dengan menuliskan bahwa semua ilmu pengetahuan bersifat persuasif, entah dengan latar belakang nilai, ideologi, bahkan angka. Sehingga dari sini muncul konsumen ilmu yang membenarkan kesimpulannya.
Pencarian Kembali ‘Narasi’
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kubu sejarahwan dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena, lebih kompleks ketimbang yang dihadapi ilmuwan fisika ataupun biologi. Akan tetapi jikalau permasalahan obyektifitas, standard penilaian, modelling, bahasa, kemungkinan-kemungkinan, intuisi, dan persuasi masih ada di dalam Ilmu alam / eksak, maka sangatlah sulit bagi kita untuk menengokkan muka kepada ilmu sosial ataupun sejarah. Disinilah peran metode ilmiah yang dipahami secara benar, untuk membantu menyediakan rasionalisasi dan dasar-dasar bagi dialog antara ilmu alam, sosial dan sejarah. Dan dengan alasan ini pula-lah, muncul sarana justifikasi intelektual yang tak terlihat dalam pendekatan studi world politics.
Narasi sejarah mungkin dapat dipergunakan sebagai jembatan antara ilmu alam yang ‘baru’ dengan kompleksitas ‘ilmu’ sosial, serta dengan ilmu sosial tradisional. Pencarian ulang narasi oleh ilmuwan sosial dapat membuat kita kembali para era pra-profesional, dimana orang yang cerdas dapat mendalami satu disiplin ilmu dan belajar pula berbagai disiplin ilmu yang lain tanpa takut disebut sebagai dilettantes (penggemar ilmu).
[Rizki Saputro]
1 John Lewis Gaddis on Woods, Ngaire.1997.Explaining International Relations Since 1945 Chapter II. Oxford University Press : New York.
2 Perdebatan tentang ini dapat dilihat sekilas dalam tulisan Hedley Bull, International Relations as an Academic Pursuit, Australian Outlook Journal vol 26. 3 December 1972 (pg.255-257).
3 Dalam bab sebelumnya, The Uses of Theory in The Study of International Relations (pg.10-11), dibahas perbedaan antara usaha yang bertujuan memahami (understanding) dan menjelaskan (explain), yang walaupun di dalam tulisan bab kedua ini, terms tersebut tidak secara efektif diaplikasikan.
4 Terry,R.G (1986) turut mendukung pendapat ini dalam bukunya Azas-Azas Manajemen. Disini terdapat pembahasan manajemen sebagai ilmu, yang menempatkan teori sebagai punggawa ilmu, dimana teori difungsikan sebagai fasilitator pembahasan dan prediksi.
5 Yusanto, Ismail (2002) dan An-Nabhani, Taqiyuddin (2000) mengingatkan bahwa metode ilmiah bisa memberikan kebenaran ‘fakta’, bisa juga memberikan hasil yang salah; karena metode penelitian yang ada tidak bisa dilepaskan dari kesalahan asumsi, pengamatan dasar, akumulasi data, dan perhitungan lainnya; ini tidak lain karena keterbatasan subyek peneliti sebagai manusia.
6 Rational choice dipopulerkan bapak sosiologi abad 18, Karl Marx, yang menjustifikasi kebenaran nilai materialisme dunia lewat metode saintifik. Sebagai salah satu ideologi dialektis, materialisme mengharuskan diri menempatkan konsep ‘rational choice’ di berbagai bidang kajiannya, termasuk di ranah ekonomi.
7 Emil Durkheim, bapak sosiologi dari Perancis Katolik Ortodoks ini juga melakukan metode ‘ilmiah’ dalam penelitian masyarakatnya. Ia membuat seperangkat analisis yang berstandarkan struktur masyarakat.
8 An-Nabhani secara dialektik lebih gamblang lagi mengungkap hakikat berfikir, sains, tulisan, karya ilmiah, dan ilusi barat atas ‘ilmu’ sosial yang seharusnya khas, menjadi universal dalam bukunya At Tafkir (1956) yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris Thingking (2000) dan dapat diakes di www.1924.org/e-books.
Jumat, 16 April 2010
Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama
Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama
Telah kita kaji hubungan antara sisi manusiawi manusia dan sisi hewaninya. Dengan kata lain, hubungan antara kehidupan budaya serta spiritual manusia dan kehidupan materialnya. Kini sudah jelas bahwa sisi manusiawi manusia itu eksistensinya independen dan bukanlah sekadar cermin kehidupan hewaninya. Juga sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua bagian pokok dari sisi manusiawi manusia. Kini marilah kita telaah keterkaitan yang terjadi atau yang dapat terjadi antara dua segi dari sisi manusiawi manusia itu.
Di dunia Kristiani, sayangnya, bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama mengajukan gagasan, bahwa terjadi kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama. Dasar dari gagasan ini—yang sangat merugikan ilmu pengetahuan dan agama—adalah Kitab Kejadian, Perjanjian Lama. Dalam meriwayatkan “Kisah Adam dan Pohon Terlarang”. Kitab Kejadian, Bab II, ayat 16-17 mengatakan:
“Dan Tuhan Allah memberikan perintah kepada lelaki itu, dengan mengatakan, “Dari setiap pohon di surga, engkau boleh leluasa makan (buahnya). Namun untuk pohon pengetahuan tentang baik dan buruk, engkau tidak boleh makan (buahnya). Karena kalau engkau makan (buah) dari pohon itu, engkau pasti akan mad.”
Dalam Bab II, ayat 1-7 dikatakan:
“Kini naganya lebih canggih ketimbang binatang buas sawah yang diciptakan Tuhan Allah. Dan dia berkata kepada wanita itu, “Ya, Tuhan telah berfirman, engkau tak boleh makan dari setiap pohon di surga?” Dan wanita itu berkata kepada sang naga, “Kita boleh makan buah dari pohon-pohon di surga. Namun untuk buah dari pohon yang ada di tengah-tengah surga, Tuhan telah berfirman, engkau tidak boleh makan buah itu, juga tak boleh menyentuhnya, agar engkau tidak mati.” Dan sang naga berkata kepada sang wanita, “Tentu saja engkau dilarang, karena Tuhan tahu bahwa begitu engkau makan (buah itu), maka kedua matamu akan terbuka, dan engkau pun akan seperti dewa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk.” Dan ketika sang wanita tahu bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan bahwa pohon itu menyedapkan pandangan matanya, dan sebuah pohon yang dibutuhkan untuk membuat orang jadi arif, wanita itu pun memetik buah dari pohon itu, kemudian memakannya, dan juga memberikan kepada suaminya, dan sang suami pun memakannya. Dan mata mereka pun terbuka, dan mereka mendapati diri mereka telanjang. Lalu mereka menjahit daun-daun ara untuk pakaian mereka’”.
Dalam ayat 22-23 dalam Bab yang sama dikatakan:
Dan Tuhan Allah berfirman, “Lihatlah, lelaki itu menjadi seperti Kami, tahu yang baik dan yang buruk. Dan kini, jangan sampai dia mengulurkan tangannya, lalu memetik (buah) dari pohon kehidupan, kemudian makan (buah itu), dan hidup abadi.”
Menurut konsepsi tentang manusia, Tuhan, ilmu pengetahuan dan kedurhakaan ini, Tuhan tidak mau kalau manusia sampai tahu yang baik dan yang buruk. Pohon Terlarang adalah pohon pengetahuan. Manusia baru dapat memiliki pengetahuan kalau dia menentang perintah Tuhan (tidak menaati ajaran agama dan para nabi). Namun karena alasan itulah manusia terusir dari surga Tuhan.
Menurut konsepsi ini, semua isyarat buruk merupakan isyarat ilmu pengetahuan, dan nalar merupakan iblis sang pemberi isyarat. Sebaliknya, dari Al-Qur’an Suci kita menjadi mengetahui bahwa Allah mengajarkan semua nama (realitas) kepada Adam, dan kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepada Adam. Iblis mendapat kutukan karena tak mau sujud kepada khalifah Allah (Adam) yang mengetahui realitas. Hadis-hadis Nabi menyebutkan bahwa Pohon Terlarang adalah pohon keserakahan, kekikiran dan hal-hal seperti itu, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan sisi hewani Adam, bukan berhubungan dengan sisi manusiawi Adam. Iblis selalu mengisyaratkan hal-hal yang bertentangan dengan akal dan hal-hal yang dapat memenuhi hasrat rendah (hawa nafsu). Yang mencerminkan iblis di dalam diri manusia adalah hasrat seksual, bukan akal. Beda dengan semua ini, yang kita temukan dalam Kitab Kejadian sungguh-sungguh sangat mengherankan.
Konsepsi ini telah membagi sejarah budaya Eropa selama 1500 tahun yang baru lalu menjadi dua periode, yaitu “Zaman Agama” dan “Zaman Ilmu Pengetahuan”, dan telah menempatkan ilmu pengetahuan dan agama saling bertentangan satu sama lain.
Sebaliknya, sejarah budaya Islam dibagi menjadi “Periode Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Agama” dan Teriode Ketika Ilmu Pengetahuan dan Agama Mengalami Kemunduran”. Kaum Muslim hendaknya menjauhkan diri dari konsepsi yang salah ini, sebuah konsepsi yang membuat ilmu pengetahuan, agama dan ras manusia mengalami kerugian yang tak dapat ditutup. Kaum Muslim juga jangan secara membuta menganggap kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama sebagai fakta yang tak terbantahkan. Bagaimana kalau kita melakukan studi analisis terhadap masalah ini, kemudian kita lihat apakah kedua segi dari sisi manusiawi manusia ini hanya ada pada periode atau zaman tertentu, dan apakah manusia pada setiap zaman nasibnya adalah hanya menjadi setengah manusia, dan selalu menderita akibat keburukan yang terjadi karena kebodohan atau karena kedurhakaan.
Seperti akan kita ketahui, setiap agama tentunya didasarkan pada pola pikir tertentu dan konsepsi khusus tentang kosmos (jagat raya). Tak syak lagi, banyak konsepsi dan interpretasi tentang dunia, meskipun boleh jadi menjadi dasar dari agama, tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan prinsip rasional dan prinsip ilmu pengetahuan. Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada konsepsi tentang dunia dan interpretasi tentang kehidupan yang rasional dan sekaligus sesuai dengan infrastruktur sebuah agama yang sangat pada tempatnya?
Jika ternyata konsepsi seperti itu memang ada, maka tak ada alasan kenapa manusia sampai dianggap untuk selamanya ditakdirkan mengalami nasib buruk akibat kebodohan atau kedurhakaan. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama dapat dibahas dari dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama adalah kita lihat apakah ada sebuah agama yang konsepsinya melahirkan keimanan dan sekaligus rasional, atau semua gagasan yang ilmiah itu bertentangan dengan agama, tidak memberikan harapan dan tidak melahirkan optimisme. Pertanyaan ini akan dibahas nanti dalam “Konsepsi Tentang Kosmos”.
Sudut pandang kedua yang menjadi landasan dalam membahas hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah pertanyaan tentang bagaimana keduanya ini berpengaruh pada manusia. Apakah ilmu pengetahuan membawa kita ke satu hal, dan agama membawa kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan satu hal itu? Apakah ilmu pengetahuan mau membentuk (karakter) kita dengan satu cara dan agama dengan cara lain? Atau apakah agama dan ilmu pengetahuan saling mengisi, ikut berperan dalam menciptakan keharmonisan kita semua? Baiklah, kita lihat sumbangan ilmu pengetahuan untuk kita dan sumbangan agama untuk kita.
Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan. Agama memberi kita cinta, harapan dan kehangatan. Ilmu pengetahuan membantu menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan. Agama menetapkan maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Ilmu pengetahuan membawa revolusi lahiriah (material). Agama membawa revolusi batiniah (spiritual). Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini dunia manusia. Agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan melatih temperamen (watak) manusia. Agama membuat manusia mengalami pembaruan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan kekuatan kepada manusia. Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan terputus-putus. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit, banjir, gempa bumi dan badai. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik. Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan maupun agama telah menarik perhadan kaum pemikir religius maupun pemikir sekular.
Dr. Muhammad Iqbal berkata:
“Dewasa ini manusia membutuhkan tiga hal: Pertama, interpretasi spiritual tentang alam semesta. Kedua, kemerdekaan spiritual. Ketiga, prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang mengarahkan evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan rohani.”
Dari sini, Eropa modern membangun sebuah sistem yang realistis, namun pengalaman memperlihatkan bahwa kebenaran yang diungkapkan dengan menggunakan akal saja tidak mampu memberikan semangat yang terdapat dalam keyakinan yang hidup, dan semangat ini ternyata hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan personal yang diberikan oleh faktor supranatural (wahyu). Inilah sebabnya mengapa akal semata tidak begitu berpengaruh pada manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat orang dan mengubah masyarakat. Idealisme Eropa tak pernah menjadi faktor yang hidup dalam kehidupan Eropa, dan hasilnya adalah sebuah ego yang sesat, yang melakukan upaya melalui demokrasi yang saling tidak bertoleransi. Satu-satunya fungsi demokrasi seperti ini adalah mengeksploitasi kaum miskin untuk kepentingan kaum kaya.
Percayalah, Eropa dewasa ini paling merintangi jalan kemajuan akhlak manusia. Sebaliknya, dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum Muslim ini adalah wahyu. Wahyu ini, yang berbicara dari lubuk hati kehidupan yang paling dalam, menginternalisasi (menjadikan dirinya sebagai bagian dari karakter manusia dengan cara manusia mempelajarinya atau menerimanya secara tak sadar—pen.) aspek-aspek lahiriahnya sendiri. Bagi kaum Muslim, basis spiritual dari kehidupan merupakan masalah keyakinan. Demi keyakinan inilah seorang Muslim yang kurang tercerahkan pun dapat mempertaruhkan jiwanya. “Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam).
Will Durant, penulis terkenal “History of Civilization” (Sejarah Peradaban), meskipun dia bukan orang yang religius, berkata:
“Beda dunia kuno atau dunia purba dengan dunia mesin baru hanya pada sarana, bukan pada tujuan. Bagaimana menurut Anda jika ternyata ciri pokok seluruh kemajuan kita adalah peningkatan metode dan sarana, bukan perbaikan tujuan dan sasaran?”
Dia juga mengatakan: “Harta itu membosankan, akal dan kearifan hanyalah sebuah cahaya redup yang dingin. Hanya dengan cintalah, kelembutan yang tak terlukiskan dapat menghangatkan hati.”
Kini kurang lebih disadari bahwa saintisisme (murni pendidikan ilmiah) tidak mencetak manusia seutuhnya. Saintisisme melahirkan setengah manusia. Pendidikan seperti ini hanya menghasilkan bahan baku untuk manusia, bukan manusia jadi. Yang dapat dihasilkan pendidikan seperti ini adalah manusia unilateral, sehat dan kuat, namun bukan manusia multilateral dan bajik. Semua orang kini menyadari bahwa zaman murni ilmu pengetahuan sudah berakhir. Masyarakat sekarang terancam dengan terjadinya kekosongan idealistis. Sebagian orang bemiaksud mengisi kekosongan ini dengan murni filsafat, sebagian lainnya merujuk kepada sastra, seni dan ilmu-ilmu humanitarian
Di negeri Iran ada usulan agar kekosongan tersebut diisi dengan sastra yang penuh kebajikan, khususnya sastra sufi karya Maulawi, Sa’di dan Hafiz. Para pendukung rencana ini lupa bahwa sastra ini sendiri mendapat ilham dan agama dan dan semangat agama yang penuh kebajikan, semangat yang menjadikan agama menarik perhatian, yaitu semangat Islam. Kalau tidak, mengapa sastra modern, meski ada klaim lantang bahwa sastra modern itu humanistis, begitu hambar, tak ada roh dan daya tariknya. Sesungguhnya kandungan manusiawi dalam sastra sufi kami, merupakan hasil dan konsepsi Islami sastra tersebut tentang alam semesta dan manusia. Seandainya roh Islam dikeluarkan dari mahakarya-mahakarya ini, maka yang tersisa hanyalah kerangkanya saja.
Will Durant termasuk orang yang menyadari adanya kekosongan itu. Menurutnya, hendaknya sastra, filsafat dan seni mengisi kekosongan itu. Dia berkata:
“Kerusakan atau kerugian yang dialami oleh sekolah dan perguruan tinggi kita, sebagian besar adalah akibat teori pendidikannya Spencer. Definisi Spencer mengenai pendidikan adalah bahwa pendidikan membuat manusia menjadi selaras dengan lingkungannya. Definisi ini tak ada rohnya, dan mekanis sifatnya, serta lahir dari filsafat keunggulan mekanika. Setiap otak dan jiwa yang kreatif menentang definisi ini. Akibatnya adalah sekolah dan perguruan tinggi kita hanya diisi dengan ilmu-ilmu teoretis dan mekanis, sehingga tak ada mata pelajaran sastra, sejarah, filsafat dan seni, karena mata pelajaran seperti ini dianggap tak ada gunanya. Yang dapat dicetak oleh suatu pendidikan yang murni ilmu pengetahuan hanyalah alat. Pendidikan seperti ini membuat manusia tak mengenal keindahan dan tak mengenal kearifan. Akan lebih baik bagi dunia seandainya saja Spencer tidak menulis buku.”
Sangat mengejutkan, meskipun Will Durant menganggap kekosongan ini pertama-tama sebagai kekosongan idealistis yang terjadi akibat pemikiran yang salah dan akibat tak ada kepercayaan kepada tujuan manusia, namun dia masih saja berpendapat bahwa problem ini dapat dipecahkan dengan sesuatu yang non-material, sekalipun mungkin imajinatif belaka. Menurutnya, menyibukkan din dengan sejarah, seni, keindahan, puisi dan musik dapat mengisi sebuah kekosongan. Kekosongan ini ada karena manusia memiliki naluri mencari ideal dan kesempurnaan.
Dapatkah Ilmu Pengetahuan dan Agama Saling Menggantikan Tempat Masing-masing?
Telah kita ketahui bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tak ada pertentangan. Yang terjadi justru keduanya saling mengisi. Sekarang timbul satu pertanyaan lagi: Mungkinkah keduanya mengisi tempat masing-masing?
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab secara terperinci, karena kita sudah tahu peran masing-masing (agama dan ilmu pengetahuan). Jelaslah bahwa ilmu pengetahuan tak dapat menggantikan peran agama, karena agama memberikan kasih sayang, harapan, cahaya dan kekuatan. Agama meninggikan nilai keinginan kita, di samping membantu kita mewujudkan tujuan kita, menyingkirkan unsur egoisme dan individualisme jauhjauh dari keinginan dan ideal kita, dan meletakkan keinginan dan ideal kita itu di atas fondasi cinta dan hubungan moral serta spiritual. Selain menjadi alat bagi kita, pada dasarnya agama mengubah hakikat kita. Begitu pula, agama juga tak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan kita dapat mengenal alam, kita dapat mengetahui hukum alam, dan kita pun dapat mengenal siapa diri kita sendiri.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup. Agama haras dipahami dengan memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi pembauran agama dengan mitos. Agama tanpa ilmu pengetahuan berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik. Kasus kaum Khawarij pada zamah awal Islam dapat kita lihat sebagai satu contoh kemungkinan ini. Contoh lainnya yang beragam bentuknya telah kita lihat, yaitu pada periode-periode selanjutnya, dan masih kita saksikan.
Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam. Itulah sebabnya sama sekali tak ada bedanya antara watak dan perilaku orang tak beriman dewasa ini yang berilmu pengetahuan dan orang tak beriman pada masa dahulu yang tidak berilmu pengetahuan. Lantas, apa bedanya antara Churchill, Johnson, Nixon dan Stalin dewasa ini dengan Fir’aun, Jenghis Khan dan Attila pada zaman dahulu?
Dapatlah dikatakan bahwa karena ilmu pengetahuan adalah cahaya dan juga kekuatan, maka penerapannya pada dunia material ini tidaklah khusus. Ilmu pengetahuan mencerahkan dunia spiritual kita juga, dan konsekuensinya memberikan kekuatan bagi kita untuk mengubah dunia spiritual kita. Karena itu, ilmu pengetahuan dapat membentuk dunia dan manusia juga. Ilmu pengetahuan dapat menunaikan tugasnya sendiri, yaitu membentuk dunia dan juga tugas agama, yaitu membentuk manusia. Jawabannya adalah bahwa semua ini memang benar, namun masalah pokoknya adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang penggunaannya tergantung kepada kehendak manusia. Apa saja yang dilakukan oleh manusia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dia dapat melakukannya dengan lebih baik. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan membantu kita mencapai tujuan dan melintasi jalan yang kita pilih.
Jadi, alat digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sekarang pertanyaannya adalah, dengan dasar apa tujuan itu ditetapkan? Seperti kita ketahui, pada dasarnya manusia adalah binatang. Sisi manusiawinya merupakan kualitas (kemampuan) yang diupayakannya. Dengan kata lain, kemampuan-kemampuan manusiawi yang dimiliki oleh manusia perlu ditumbuh-kembangkan secara bertahap dengan agama. Pada dasarnya manusia berjalan menuju tujuan egoistis dan hewaninya. Tujuan ini material dan individualistis sifatnya. Untuk mencapai tujuan ini, manusia memanfaatkan alat yang ada pada dirinya. Karena itu, dia membutuhkan kekuatan pendorong. Kekuatan pendorong ini bukan tujuannya dan juga bukan alatnya. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat meledakkannya dari dalam, dan mengubah kemampuan terpendamnya menjadi tindakan nyata. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat mewujudkan revolusi dalam hati nuraninya dan memberinya orientasi baru. Tugas ini tidak dapat dilaksanakan dengan pengetahuan tentang hukum yang mengatur manusia dan alam beserta isinya. Namun tugas ini baru dapat dilaksanakan jika dalam jiwa manusia tertanam kesucian dan arti penting nilai-nilai tertentu. Untuk tujuan ini manusia harus memiliki beberapa kecenderungan yang mulia. Kecenderungan seperti ini ada karena cara pikir dan konsepsi tertentu tentang alam semesta dan manusia. Cara pikir dan konsepsi ini, serta muatan dimensi dan bukti cara pikir dan konsepsi tersebut, tidak dapat diperoleh di laboratorium dan, seperti akan kami jelaskan, berada di luar jangkauan ilniu pengetahuan.
Sejarah masa lalu dan sekarang telah memperlihatkan betapa buruk akibat yang ditimbulkan oleh pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Kalau ada agama namun tak ada ilmu pengetahuan, maka arah upaya kaum humanitarian adalah sesuatu yang tidak banyak membawa hasil atau tidak membawa hasil yang baik. Upaya ini sering menjadi sumber prasangka dan obskurantisme (sikap yang menentang ilmu pengetahuan dan pencerahan—pen.), dan terkadang hasilnya adalah konflik yang membahayakan.
Kalau ilmu pengetahuan ada namun agama tidak ada, seperti yang terjadi pada sebagian masyarakat modern, maka segenap kekuatan ilmu pengetahuan digunakan untuk tujuan menumpuk harta sendiri, memperbesar kekuasaan sendiri, dan untuk memuaskan nafsu berkuasa dan nafsu mengeksploitasi.
Dua atau tiga abad yang baru lalu dapat dipandang sebagai periode mendewakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan agama. Banyak intelektual mengira bahwa segenap problem yang dihadapi manusia dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan, namun pengalaman telah membuktikan sebaliknya. Dewasa ini semua intelektual sepakat bahwa manusia membutuhkan agama. Meskipun agama itu tidak religius, namun yang jelas di luar ilmu pengetahuan. Sekalipun pandangan Bertrand Russel, materialistis, namun dia mengakui bahwa: “Kerja yang semata-mata bertujuan memperoleh pendapatan, maka kerja seperti itu tak akan membawa hasil yang baik. Untuk tujuan ini harus diadopsi profesi yang menanamkan pada individu sebuah agama, sebuah tujuan dan sebuah sasaran.”[6]
Dewasa ini kaum materialis merasa terpaksa mengklaim diri sebagai kaum yang secara filosofis materialis dan secara moral idealis. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum materialis dari sudut pandang teoretis, dan kaum spiritualis dari sudut pandang praktis dan idealistis. Bagaimanapun juga, problemnya tetap: mana mungkin seorang manusia secara teoretis materialis dan secara praktis spiritualis? Pertanyaan ini harus dijawab oleh kaum materialis sendiri.
George Sarton, ilmuwan dunia yang termasyhur, penulis buku yang terkenal, “History of Science” (Sejarah Ilmu Pengetahuan), ketika menguraikan ketidakberdayaan ilmu pengetahuan mewujudkan hubungan antar umat manusia, dan ketika menegaskan kebutuhan mendesak akan kekuatan agama, berkata:
“Di bidang-bidang tertentu, ilmu pengetahuan berhasil membuat kemajuan yang hebat. Namun di bidang-bidang lain yang berkaitan dengan hubungan antar umat manusia, misalnya bidang politik nasional dan internasional, kita masih menertawakan diri kita.”
George Sarton mengakui bahwa kayakinan yang dibutuhkan oleh manusia adalah keyakinan yang religius. Menurutnya, kebutuhan ini merupakan satu di antara tiga serangkai yang dibutuhkan oleh manusia: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Katanya,
“Seni mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah had nurani umat manusia. Kita membutuhkan ketiganya: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mutlak diperlukan, meskipun tidak pernah memadai.” (George Sarton, Six Wings: Men of Science in the Renaissance, hal. 218. London, 1958