Dalam bukunya ‘When I was very young’, sejarahwan E.H. Carr menuliskan, “ Saya sangatlah yakin bahwa sejarah bukanlah ilmu”. Telah menjadi kebiasaan yang tidak bijaksana dalam penelitian sejarah, bahwa para sejarahwan dalam historical method-nya menggunakan atribusi scientific. Demikian juga dengan para ilmuwan politik, tetapi bedanya disini para ilmuwan politik lebih cermat dan teliti dalam penerapannya, mereka merasa preoccupied dalam penelitian ‘scientific’-nya. Mereka cenderung mengasumsikan teknik pendekatan reduksi, sistem, dan kuantitatif, bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya ilmuwan eksak tidak begitu yakin terhadap hal tersebut. Melihat fenomena ini para mahasiswa hubungan internasional menghadapi dilema2, apakah mengikuti teknik ‘scientific’ sejarahwan yang menghasilkan understanding3 dimana hal-hal menarik akan di’cerita’kan; Ataukah mengikuti para ‘scientific method’ ilmuwan politik, yang didalamnya tidak ada jaminan kevalidan. Atau bisa jadi mereka melakukan sinkronisasi sendiri dalam reflektifitas post-modernisme yang menggunakan segala macam pendekatan atas ‘ilmu pengetahuan’.
Makna Sains
Sains dibutuhkan untuk melakukan penjelasan (explain) atas fenomena dan ramalan (forecast/prediction)sebagai langkah antisipasi masa depan4. Keduanya berjalan bersamaan dalam satu kerangka teori. Sains hanyalah satu-satunya cara untuk metode penjelasan dan prediksi fenomena alam. Sementara itu, metode non-sains juga terdapat di dalam sejarah kehidupan manusia, tetapi universalitas dan validitasnya tidak dapat diandalkan. Berbeda dengan metode saintifik yang mampu menghasilkan kesepakatan universal, melewati batasan bahasa, wilayah, ras, agama, dan ideologi5.
Metode Saintifik dalam Hubungan antar Manusia
Sayangnya metode saintifik ini tidak pernah valid sebagaimana ilmu eksak, ketika diterapkan dalam ilmu sosial. Stanley Hoffmann pernah mengingatkan bahwa ‘manusia bukanlah gas (molekul) atau piston (motor kendaraan)’, artinya terdapat kesadaran (conciusness) dalam alam pikir manusia. Ilmu-ilmu sosial yang ada (Barat) sering kali menyangkal fakta ini. Mereka melihat politik, ekonomi, dan masyarakat sama saja dengan dunia eksak / alamiah, yang pada akhirnya memunculkan asumsi bahwa ’kita’ dapat memahami dunia hubungan antar manusia, setidaknya sebagian kecil dari tujuan explaining and forecasting, sebagaimana yang dilakukan oleh ilmu alam / eksak. Contoh dari pendekatan ini termasuk, ‘rational choice’ dalam asumsi ekonomi6, structural functionalism dalam sosiologi7, ‘where you stand depends on where you sit’ dalam studi organisasi, psikologi aliran Freud, dan teori realis dan neo-realis dalam studi hubungan internasional.
Mereka tidak hirau atas ketidakpastian dan kemungkinan akan perubahan pola pikir dan pola sikap manusia. Ini disebabkan keinginan mereka menjustifikasi teori mereka dalam tataran kebenaran universal sebagaimana kebenaran ilmu alam / eksak. Mereka juga beralasan, apabila reduksi, stabilisasi, dan universalisasi tidak dilakukan maka penjelasan akan meluas dan tidak memberikan satu kejelasan yang memungkinkan prediksi. Gaddis memandang, aktivitas ini tidak lebih sama dengan yang dilakukan para sejarahwan yang hanya mampu memberikan penjelasan yang baik, tetapi tidak mampu memberikan prediksi; padahal ini sangat penting bagi pembuatan kebijakan (policy making).
Ilmu Sosial dan ‘Kecemburuan’ atas Ilmu Alam
Penyakit yang dialami berbagai bidang ilmu sosial ini didokumentasikan dengan apik oleh M. Mitchell Waldrop dalam bukunya Complexity :
“Sebagaimana aksioma, dalil, dan bukti-bukti bergerak di layar OHP, para fisikawan terpana pada kekuatan matematika – terkejut ngeri sekaligus terpana. ‘Mereka terlalu sempurna’, kata salah seorang fisikawan muda yang tidak lupa untuk menggelengkan kepala sebagai tanda ketidakpercayaannya. ‘Akan tetapi mereka sepertinya terpesona atas khayalan-khayalan matematika mereka sendiri, hingga mereka tidak menyadari adanya pepohonan dalam hutan. Begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk percobaan menyerap matematika ke dalam bidang tersebut (ekonomi, sosial), dan saya rasa untuk alasan apapun, mereka tidak memahami terlebih dahulu bahwasanya model matematika (metode hitungan) tersebut hanya digunakan dalam konteks / kasus tertentu saja. Nyatanya dalam kebanyakan kasus, yang dibutuhkan hanyalah sedikit akal sehat saja’ lanjutnya”.
Maksud paragraf diatas adalah mengingatkan kembali para ilmuwan sosial untuk memahami kembali apa yang dimaksud dengan sains. Bukannya melakukan revolusi diam-diam atas konsep makna sains (menjadi ilmu sains ‘baru’) yang sebelumnya hanya dikenakan oleh ilmu alam saja8.
Ilmu Sejarah
Stephen Jay Gould mengungkapkan fakta bahwa ilmu sejarah memiliki kekuatan untuk menjelaskan secara detail ‘dimana kita’ dan ‘bagaimana kita bisa disini’. Tetapi untuk melakukan prediksi –sebagaimana yang selalu diinginkan para sejarahwan, ia dibatasi oleh kurangnya penelitian yang spesifik tentang kerangka kerja dan proses berjalannya sejarah secara keseluruhan. Memang kebanyakan yang dihasilkan para ilmuwan sejarah adalah di bidang kerangka kerja (structural sciences). Sementara pada level proses (sciences of process), ia sangatlah minim, kemungkinan hal ini disebabkan kecenderungan untuk bimbang dalam memilih teknik kuantifikasi dan kalkulasi.
Sejarah dan Ilmu Pengetahuan Alam yang ‘Baru’
Dengan usaha sinkronisasi ilmu sosial dengan ilmu alam / fisika, ilmuwan eksak mulai beralih jalur berfikir lebih ke arah sejarahwan. Artinya lebih tidak rasional, dan prediksi yang dihasilkan sangatlah minim. Untuk itu perlulah kiranya untuk menengok debat lama antara ilmuwan sosial tradisional dengan ilmuwan sejarah. Sejarah dinilai:
Gagal untuk bersikap obyektif, sementara Gaddis memandang ilmu alam lebih sedikit mengalami permasalahan dengan obyektivitas ketimbang ilmu sejarah, oleh sebab itu sejarah lebih mudah melepaskan diri dari satu framework ke framework yang lain, yang tidak dapat dilakukan ilmu alam dan ilmu sosial.
Gagal memberikan standarisasi ukuran / measurement atas fenomena. Gaddis menyanggah dengan mengutip ‘Leopold von Ranke yang menyatakan bahwa sejarah dapat dan harus dipisahkan dari penelitinya sendiri, tetapi Charles A. Beard menyatakan hal tersebut sangatlah relatif, tergantung standard apa yang akan kita gunakan’. Sama halnya dalam teori hubungan internasional, model pilihan rasional tidak mengukur rasionalitas dalam skala yang tepat, begitu juga dengan definisi power yang batasannya sangat umum.
Gagal membuat suatu model yang kompleks. Gaddis berpendapat bahwa tujuan dari model adalah memberikan contoh sepersis mungkin dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu model adalah sebuah metafora (gambaran), dan kompleksifitasnya diasumsikan tergantung pada keseimbangan antara ketelitian terhadap kegunaan. Sejarah sebenarnya melakukan metafora dengan mencerminkan realita kompleks sehingga ia lebih mudah dipahami ketimbang menggunakan metode dan deskripsi kompleks.
Gagal mengalih-bahasakan pilihan atas deskripsi kuantitatifnya. Gaddis menganggap bahasa sendiri sebagai sebuah model, dan tidak ada alasan untuk mengalih-bahasakan ekspresi matematika, selama permasalahan standar pengukuran dan modelling dapat diatasi.
Gagal membuat kemungkinan-kemungkinan dan tidak hirau atas generalisasi yang dilakukannya. Gaddis menjawab bahwasanya sistem yang mengatur dunia ini memiliki lebih dari satu variabel, yang akhirnya akan menghasilkan reaksi yang berbeda antar variabel, yang juga dialami ilmu sosial. Disinilah pentingnya sejarah, untuk memahami pola sikap dari sebuah sistem.
Gagal mengumpulkan bukti secara sistematik dan cenderung intuitif. Gaddis menanggapinya, bahwa kompilasi bukti dan munculnya intuisi selalu berjalan secara simultan, dimana hipotesa menetapkan bukti yang akan dipakai, dan bukti yang kemudian muncul membentuk kembali hipotesa sebelumnya. Mengumpulkan data saja secara terus menerus tanpa memiliki standard mekanisme penilaian yang mencukupi (yang berasal dari intuisi), tidak akan mungkin menyelesaikan permasalahan.
Gagal memberikan bukti yang teliti dan cenderung persuasif. Gaddis menyangkal dengan menuliskan bahwa semua ilmu pengetahuan bersifat persuasif, entah dengan latar belakang nilai, ideologi, bahkan angka. Sehingga dari sini muncul konsumen ilmu yang membenarkan kesimpulannya.
Pencarian Kembali ‘Narasi’
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kubu sejarahwan dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena, lebih kompleks ketimbang yang dihadapi ilmuwan fisika ataupun biologi. Akan tetapi jikalau permasalahan obyektifitas, standard penilaian, modelling, bahasa, kemungkinan-kemungkinan, intuisi, dan persuasi masih ada di dalam Ilmu alam / eksak, maka sangatlah sulit bagi kita untuk menengokkan muka kepada ilmu sosial ataupun sejarah. Disinilah peran metode ilmiah yang dipahami secara benar, untuk membantu menyediakan rasionalisasi dan dasar-dasar bagi dialog antara ilmu alam, sosial dan sejarah. Dan dengan alasan ini pula-lah, muncul sarana justifikasi intelektual yang tak terlihat dalam pendekatan studi world politics.
Narasi sejarah mungkin dapat dipergunakan sebagai jembatan antara ilmu alam yang ‘baru’ dengan kompleksitas ‘ilmu’ sosial, serta dengan ilmu sosial tradisional. Pencarian ulang narasi oleh ilmuwan sosial dapat membuat kita kembali para era pra-profesional, dimana orang yang cerdas dapat mendalami satu disiplin ilmu dan belajar pula berbagai disiplin ilmu yang lain tanpa takut disebut sebagai dilettantes (penggemar ilmu).
[Rizki Saputro]
1 John Lewis Gaddis on Woods, Ngaire.1997.Explaining International Relations Since 1945 Chapter II. Oxford University Press : New York.
2 Perdebatan tentang ini dapat dilihat sekilas dalam tulisan Hedley Bull, International Relations as an Academic Pursuit, Australian Outlook Journal vol 26. 3 December 1972 (pg.255-257).
3 Dalam bab sebelumnya, The Uses of Theory in The Study of International Relations (pg.10-11), dibahas perbedaan antara usaha yang bertujuan memahami (understanding) dan menjelaskan (explain), yang walaupun di dalam tulisan bab kedua ini, terms tersebut tidak secara efektif diaplikasikan.
4 Terry,R.G (1986) turut mendukung pendapat ini dalam bukunya Azas-Azas Manajemen. Disini terdapat pembahasan manajemen sebagai ilmu, yang menempatkan teori sebagai punggawa ilmu, dimana teori difungsikan sebagai fasilitator pembahasan dan prediksi.
5 Yusanto, Ismail (2002) dan An-Nabhani, Taqiyuddin (2000) mengingatkan bahwa metode ilmiah bisa memberikan kebenaran ‘fakta’, bisa juga memberikan hasil yang salah; karena metode penelitian yang ada tidak bisa dilepaskan dari kesalahan asumsi, pengamatan dasar, akumulasi data, dan perhitungan lainnya; ini tidak lain karena keterbatasan subyek peneliti sebagai manusia.
6 Rational choice dipopulerkan bapak sosiologi abad 18, Karl Marx, yang menjustifikasi kebenaran nilai materialisme dunia lewat metode saintifik. Sebagai salah satu ideologi dialektis, materialisme mengharuskan diri menempatkan konsep ‘rational choice’ di berbagai bidang kajiannya, termasuk di ranah ekonomi.
7 Emil Durkheim, bapak sosiologi dari Perancis Katolik Ortodoks ini juga melakukan metode ‘ilmiah’ dalam penelitian masyarakatnya. Ia membuat seperangkat analisis yang berstandarkan struktur masyarakat.
8 An-Nabhani secara dialektik lebih gamblang lagi mengungkap hakikat berfikir, sains, tulisan, karya ilmiah, dan ilusi barat atas ‘ilmu’ sosial yang seharusnya khas, menjadi universal dalam bukunya At Tafkir (1956) yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris Thingking (2000) dan dapat diakes di www.1924.org/e-books.
Minggu, 25 April 2010
Sejarah, Ilmu Pengetahuan, dan Studi Hubungan Internasional
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar